Institusi pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk perilaku ekologis generasi muda. Namun dalam praktiknya, sekolah menengah atas sering menjadi salah satu kontributor timbulan sampah plastik sekali pakai akibat pola konsumsi kantin yang belum terintegrasi dengan sistem pengelolaan lingkungan berbasis data. Kondisi ini juga teridentifikasi di SMA Negeri 1 Surabaya (SMASA). Berdasarkan hasil pra-observasi, volume sampah plastik di lingkungan sekolah mencapai sekitar 15–20 kg per hari, yang didominasi oleh botol minuman PET serta kemasan makanan sekali pakai.
Dengan jumlah peserta didik sebanyak 834 siswa, jika diasumsikan setiap siswa mengonsumsi satu botol minuman dan satu kemasan makanan setiap hari, maka dalam satu bulan pembelajaran (±20 hari efektif) sekolah berpotensi menghasilkan lebih dari 33.360 kemasan plastik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendekatan konvensional berupa himbauan moral semata belum cukup efektif dalam mengendalikan perilaku konsumsi plastik sekali pakai di lingkungan sekolah tanpa adanya sistem kontrol yang terukur dan berkelanjutan.
Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, Bapak Kepala SMA Negeri 1 Surabaya Dr. Muhammad Romli, S. Pd., M.Pd. , mengembangkan inovasi BENTO PRESENCE, sebuah sistem pencatatan dan monitoring berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk membangun kebiasaan siswa membawa tumbler dan kotak makan mandiri.
- Hits: 518
Read more: BENTO PRESENCE Apps, Transformasi Habituasi Ekologi


“Dari Langit ke Hati, Saatnya Perbaiki Diri”


Semarang, 13–14 Januari 2026 — Rangkaian kegiatan kokurikuler siswa dan siswi Kelas XI SMA Negeri 1 Surabaya (SMASA) resmi dimulai pada malam 12 Januari 2026, dengan berkumpul di area sekolah sebelum berangkat menuju Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Sebanyak 170 peserta didampingi pembimbing berangkat menggunakan empat bus pariwisata demi pengalaman belajar di luar kelas yang inspiratif dan edukatif.
Surabaya, 3 November 2025 — SMA Negeri 1 Surabaya hari ini melaksanakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi seluruh peserta didik kelas XII. Kegiatan ini merupakan bagian penting dalam proses evaluasi pembelajaran dan menjadi salah satu syarat utama bagi siswa untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, baik perguruan tinggi maupun sekolah kedinasan.
Pada dasarnya, kesiapan sekolah dalam penerapan Kurikulum Merdeka menjadi komponen utama dalam pelaksanaannya. Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan, Ditjen GTK menyampaikan bahwa Kurikulum Merdeka adalah kurikulum pembelajaran yang memiliki beragam konten yang dioptimalkan dalam penyampaian materi pembelajaran. Untuk ini Peserta Didik diharapkan memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensinya.
IDEAS, SMASA E-Magazine






